lulu.maknun10's blog
mencari dan memberi yang terbaik
13
Sep

Cerita Inspirasi II

Posted in Academic  by lulu.maknun10

Nama   : Lulu Maknun

NRP    : F24100014

Laskar : 1 (Soekarno)

Di cerita inspirasi saya yang kedua ini, saya akan mencoba menginspirasi orang lain melalui kisah saya sendiri. Semasa di SMA, saya termasuk salah satu siswa yang cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah saya seperti KIR, Buletin Sekolah, Kelompok Seni Rupa, hingga Perkumpulan olahraga tenis meja. SMA Negeri 1 Bogor memang termasuk sekolah yang cukup terkenal eksistensi organisasi dan ekstrakurikulernya sejak dulu karena sudah memiliki struktur yang jelas, sering membuat acara yang skalanya sudah cukup besar seperti lomba-lomba yang bisa diikuti oleh pelajar sekolah lain dari luar SMA Negeri 1 Bogor bahkan dari luar Kota Bogor. Saya bangga menjadi salah satu orang yang bisa merasakan kehidupan organisasi di SMA Negeri 1 Bogor karena memang banyak sekali keuntungan yang saya dapatkan terutama mengenai kesiapan menghadapi kehidupan kampus yang dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan baik.

Awalnya saat kelas sepuluh (kelas satu SMA), organisasi pertama yang saya ikuti adalah KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Sebenarnya KIR SMAN 1 Bogor bukan merupakan oganisasi, namun merupakan suatu semi organisasi. Awalnya saya hanya iseng mendaftar menjadi anggota KIR untuk mengisi setidaknya kolom kegiatan ekstrakurikuler di rapor saya sekaligus ingin tahu bagaimana kehidupan berorganisasi di SMAN 1 Bogor. Namun tidak ada motivasi atau tujuan khusus apalagi saya tidak tahu apapun mengenai KIR SMAN 1 Bogor sebelumnya.

Secara tidak diduga-duga, saya diangkat menjadi Dewan Harian KIR periode 2007-2008, suatu posisi yang secara struktur di KIR SMAN 1 Bogor merupakan posisi tertinggi. Dewan Harian KIR semuanya berjumlah tujuh orang yang masing-masing akan menjabat sebagai Ketua Umum, Ketua I yang membawahi bidang ilmiah, Ketua II yang membawahi bidang organisasi, Sekretaris I, Sekretaris II, Bendahara I, dan Bendahara II. Dan saat kelas sepuluh, saya terpilih menjadi Bendahara II. Suatu posisi yang asing bagi saya yang awalnya hanya ‘iseng’ saja mengikuti KIR, apalagi sebelumnya di SMP saya belum pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun. Maka dari itu, saya masih bingung harus bagaimana saat sudah terpilih menjadi bendahara II. Saya hanya berusaha menjadi diri saya sendiri. Saya memanfaatkan sifat saya yang cukup supel dan periang untuk ‘bertugas’ menjadi bendahara II yang tugasnya meminta uang iuran wajib seluruh pengurus KIR kelas sepuluh. Jadi, setiap bertemu dengan pengurus KIR khususnya kelas sepuluh, saya akan menagih uang iuran dengan metode yang akrab misalnya sambil bercanda, dsb. Hal itu rupanya cukup berhasil karena selain saya menjadi terkenal di kalangan pengurus KIR kelas sepuluh sebagai ‘Si penagih iuran’, di akhir tahun kepengurusan pun saldo uang kas jika digabungkan dengan uang dari bendahara I pun mencapai satu juta rupiah lebih. Suatu prestasi yang cukup membanggakan bagi saya pribadi yang sebenarnya tidak terlalu pandai mengelola uang sebelumnya.

Namun, kehidupan organisasi saya tidak berjalan lancar begitu saja. Saya seringkali datang terlambat atau bahkan tidak menghadiri rapat Dewan Harian yang biasa diadakan rutin setiap Senin dan Sabtu pukul 6.15 WIB. Karena rumah saya cukup jauh dari sekolah dan saya memang sulit untuk berangkat pagi karena saya memiliki kewajiban untuk menyapu teras dan halaman rumah setiap paginya, saya pun jadi sering bolos rapat. Akibatnya, saya mendapat teguran langsung dari ketua umum dan rekan Dewan Harian lainnya. Saya pun berusaha memperbaiki diri dan kinerja saya. Namun sejujurnya saya merasa kurang pantas menjadi Dewan Harian. Saya memandang remeh diri saya sendiri dengan sibuk mencari kekurangan diri tanpa melihat kelebihan diri saya sendiri saat itu. Saat itu saya hanya berusaha menghabiskan masa jabatan saya semaksimal mungkin.

Selain sekolah, saya juga mengikuti les bahasa inggris di suatu tempat kursus bersama dengan seorang teman baru yang saya kenal di KIR yaitu Aliya Faizah Fithriyah. Sebelum sama-sama di KIR, kami tidak saling mengenal satu sama lain karena Aliya berasal dari SMPN 4 Bogor sedangkan saya dari SMPN 1 Bogor. Dilihat dari pengalaman organisasi semasa SMP, seharusnya Aliya yang lebih pantas menjadi Dewan Harian KIR. Namun saat itu Aliya belum betah di KIR karena teman-teman baiknya tidak ada yang mengikuti KIR. Karena satu kelas di tempat kursus, saya dan Aliya pun menjadi semakin akrab. Kami sering bercerita dan bertukar pikiran. Awalnya hanya seputar KIR dan sekolah, namun lama kelamaan kami saling percaya untuk menceritakan yang lebih daripada itu seperti mengenai keluarga bahkan masalah pribadi. Apalagi rumah kami ternyata satu arah sehingga kami sering pulang bersama. Aliya yang tadinya tidak terlalu aktif di KIR dan berniat mengundurkan diri pada tahun kedua, ternyata justru semakin aktif karena secara tak langsung kebersamaan kami membuatnya semakin sering mengikuti kegiatan-kegiatan KIR. Bahkan pada tahun kedua, kami berdua sama-sama diangkat menjadi Dewan Harian. Kali ini saya terpilih menjadi Ketua II dan Aliya menjadi Sekretaris I. Saat sudah terpilih, Aliya pun mengaku sebenarnya ia sudah berniat mengundurkan diri sejak lama namun karena setiap bertemu dengan saya, saya selalu menyapa dan memanggil namanya dengan senyum saya, ia pun mengurungkan niatnya karena merasa tidak enak dengan saya yang sudah berusaha merangkulnya untuk tetap aktif di KIR. Selain itu, seyuman saya kepadanya membuatnya merasa dibutuhkan di KIR, merasa dihargai padahal jika dilihat dari jabatannya, mungkin bisa dibilang jabatan saya lebih tinggi daripada jabatan Aliya namun setiap kali bertemu saya tidak pernah malas untuk menyapanya dan melontarkan senyuman.

Saat mendengar pengakuan Aliya tersebut, saya kaget karena tidak menyangka bisa membuat orang lain terpengaruh ke jalan yang baik. Saya tidak pernah melihat potensi dalam diri saya. Saya merasa senyuman saya bukanlah apa-apa. Namun ternyata, dengan senyuman yang bukan apa-apa itulah justru membuat orang lain seperti Aliya merasa dibutuhkan. Bahkan berawal dari senyuman itulah Aliya dan saya hingga saat ini menjadi sahabat baik.

Ternyata, hal yang kecil yang seringkali dianggap sepele bisa membuat perubahan yang cukup besar. Karena itu pula, jangan pernah remehkan kemampuan diri kita sendiri karena setiap orang pasti memiliki kelebihan di samping kekurangan yang lebih sering dicari-cari. Namun kelebihan diri itu tidak boleh disombongkan dan terlalu dibanggakan oleh kita sendiri, karena tanpa disombongkan pun potensi baik dan kebaikan dalam diri kita bisa terlihat oleh orang lain.

Semoga kisah saya ini bisa menginspirasi orang lain karena saya sendiri mendapat banyak pelajaran dari kisah ini.

13
Sep

Cerita Inspirasi I

Posted in Academic  by lulu.maknun10

Nama   : Lulu Maknun

NRP    : F24100014

Laskar : 1 (Soekarno)

 

Nama saya Lulu Maknun, saya adalah salah satu angkatan 47 dari departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian. Saya berasal dari SMA Negeri 1 Kota Bogor. Terus terang, awal-awal kehidupan saya di IPB tidak terlalu baik. Entah mengapa saya kurang bersemangat dan merasa ada sesuatu yang kurang. Saya membutuhkan motivasi. Bukan karena saya tidak ikhlas berkuliah di IPB, tapi saya merasa ada yang kurang. Sejak awal pun saya memang bercita-cita masuk IPB jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Namun anehnya walaupun saya sudah diterima di tempat yang saya impikan, saya justru merasa ada yang kurang selama hidup selama hampir dua bulan terakhir di IPB. Bukan karena saya tidak bisa bersosialisasi dengan baik di asrama maupun di kelas, saya justru termasuk orang yang cukup supel, apalagi dulu semasa di SMA saya mengikuti berbagai organisasi dan ekstrakurikuler sehingga saya sedikit banyak belajar bersosialisasi melalui itu. Maka dari itu, saya sendiri tidak tahu apa yang membuat saya kurang bersemangat dan termotivasi.

Semua ‘anomali’ itu pun mulai berubah sejak Jumat 3 September 2010, sehari sebelum semua teman sekamar saya pulang ke daerah asalnya masing-masing. Di asrama, saya mempunyai teman sekamar yang berasal dari berbagai daerah yang cukup jauh yang belum pernah saya kunjungi. Ada yang bernama Ni Nengah Yogiswari Resyana yang dari namanya saja sudah dapat dipastikan berasal dari Bali, Mega Wahyu dari Banyuwangi, dan Fitri Gumayanti dari Palembang. Pada tanggal 3 September itu,  saya, Yogi dan Fitri sedang berbincang di kamar kami pada malam hari yang cukup dingin setelah pulang berbuka puasa dari Bara dan hujan deras membuat kami kebasahan. Di waktu yang santai itulah Fitri mulai bercerita tentang perjalanannya hingga bisa berkuliah di IPB.  Ia adalah salah satu peraih Beasiswa Utusan Daerah dari daerahnya. Ia tidak tinggal tepat di pusat Kota Palembang, namun di Kecamatan Gumay, Kabupaten Lahat. Sejujurnya saya belum pernah mendengar daerah itu apalagi berkunjung ke sana. Ia mengatakan bahwa ia mengikuti seleksi BUD karena desakan kedua orang temannya yang ditunjuk juga oleh Kepala SMA tempat mereka bersekolah sebagai utusan sekolahnya karena setiap SMA di daerah Kabupaten Lahat diberikan ‘jatah’ untuk mengirimkan tiga siswa terbaiknya. Namun ia bimbang karena tesnya diadakan tepat di Kabupaten Lahat dan untuk bisa tiba disana membutuhkan uang setidaknya lima belas ribu rupiah untuk transportasi karena jaraknya ternyata sangat jauh. Saat mengutarakan niatnya mengikuti seleksi IPB, kedua orangtuanya ternyata tidak mengijinkan karena tidak bisa memberikan uang lima belas ribu rupiah tersebut. Saat mendengar hal itu, hati saya bergetar mengingat betapa kecilnya nilai uang lima belas ribu rupiah bagi saya dan bisa saya dapatkan dari kedua orangtua saya dengan sangat mudah. Ia pun melanjutkan ceritanya lagi, ia bilang akhirnya ia nekat berangkat dengan membawa uang sepuluh ribu rupiah saja bersama kedua temannya yang ikut seleksi juga. Padahal sehari-harinya ia hanya berdua dengan adiknya saja di rumah karena kedua orang tuanya pergi ke kebun di balik bukit yang jauh sekali dari rumah mereka dan hanya pulang seminggu sekali dengan memberinya uang lima puluh ribu rupiah untuk biaya hidupnya berdua dengan adiknya. Maka saat itu, ia mengambil sepuluh ribu dari uang tersebut dan sepuluh ribu lagi digunakan adiknya untuk membeli buku. Sang adik yang ditinggal kakaknya itupun harus bisa bertahan hidup sendiri dengan uang tiga puluh ribu yang tersisa untuk seminggu ke depan. Saya pun kembali membayangkan diri saya jika ditinggal di rumah sendirian dengan uang tiga puluh ribu rupiah. Pasti saya tidak akan kuat karena selama ini saya tidak pernah kekurangan makan dan kalaupun ingin makan, semuanya sudah tersedia tanpa harus repot-repot memasaknya sendiri karena orang tua saya pasti sudah menyiapkannya untuk saya dan kakak saya. Dengan uang sepuluh ribu, teman saya tiba di rumah salah satu di dari kedua temannya yang mengikuti seleksi juga. Sebenarnya rumah temannya di Kabupaten Lahat itu cukup jauh dari tempat seleksi BUD ke IPB yang akan mereka datangi keesokan harinya. Setelah bermalam, esoknya ketiganya pun berangkat menuju tempat seleksi dengan tanpa membawa makanan. Mereka pikir seleksinya hanya akan sampai siang hari karena mereka sudah harus di sana sejak pagi hari. Namun ternyata, sejak pagi hari acaranya baru sambutan dari bupati, kepala dinas, dan pejabat pemerintah lainnya. Seleksi baru dimulai sejak siang hari. Semua peserta membawa bekal untuk makan siang, namun teman saya dan kedua orang temannya tidak. Mereka juga tidak membawa uang. Alhasil, mereka tidak makan apa-apa sebelum tes. Tes berakhir pada sore hari. Dan tanpa diduga, hujan pun turun dengan derasnya. Ketiga sekawan itu tidak membawa payung ataupun uang untuk pulang ke rumah salah satu di antara mereka tadi karena mereka berangkat dengan berjalan kaki. Mereka pun kembali melakukan aksi nekat yaitu pulang berjalan kaki sambil diguyur hujan lebat. Seleksi pun belum cukup sampai di situ. Untuk keperluan administrasi data, pihak IPB memberikan beberapa lembar formulir yang harus diisi yang di dalamnya harus disertakan juga dua buah materai 6000. Lagi-lagi karena keterbatasan ekonomi, teman saya tersebut harus dipusingkan dengan dari mana ia bisa memperoleh uang untuk membeli dua buah materai yang satunya dijual delapan ribu rupiah. Ia pun mendatangi salah satu gurunya untuk meminta bantuan dari sekolah namun ternyata guru tersebut mengatakan bahwa itu bukanlah urusan sekolah karena berhubungan dengan pendidikannya sendiri, jadi ia harus bisa berusaha memenuhinya sendiri dan pihak sekolah tidak bisa memberi bantuan finansial seperti itu. Sebenarnya selebum tes awal di Kabupaten Lahat pun ia sudah pernah meminta bantuan untuk uang lima belas ribu rupiah yang sebelumnya tidak bisa diberikan kedua orang tuanya namun ditolak dengan alasan yang sama dengan alasan ketika ia meminta bantuan lagi untuk membeli materai. Akhirnya ia menyerah, ia memilih untuk tidak melanjutkan pengisian formulir karena tidak sanggup membeli materai. Ia pergi ke belakang sekolahnya dan menangis sejadi-jadinya. Ia menangis selama lebih kurang setengah jam dari awal istirahat hingga berakhirnya jam istirahat. Kedua temannya yang sama-sama mengikuti tes pun berusaha meminta bantuan kembali kepada pihak sekolah namun kepada guru yang berbeda. Akhirnya teman saya itu bisa memperoleh pinjaman untuk membeli materai yang dibutuhkan. Setelah semua data selesai diisi kemudian dikirim, pada tanggal 24 Maret 2010 saat Ujian Nasional masih diadakan, teman saya dipanggil gurunya dan disana ia diberitahu bahwa ia berhasil mendapat BUD untuk malanjutkan kuliah di IPB. Pengumuman itu tepat dengan hari ulang tahunnya. Mungkin itu adalah kado terindah hasil perjuangannya selama ini, hasil keringat kedua orang tuanya yang bertani jauh di balik bukit, dari pengorbanan adiknya yang bersedia ditinggal sendirian di rumah dengan hanya uang tiga puluh ribu rupiah untuk makan selama seminggu. Ia pun menambahkan, bahwa kakaknya sebelumnya juga memperoleh kesempatan melanjutkan kuliah di salahsatu universitas di Jogjakarta namun tidak memperoleh biaya penuh seperti BUD yang ia dapatkan sehingga kakaknya harus rela melepas kesempatan itu dan langsung mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Di Kecamatan tempatnya tinggal pun sebenarnya sekolah tingkat SMP dan SMA hanya ada satu dan baru dibuka pada saat ia lulus SD dan lulus SMP. Sehingga ia tidak perlu jauh-jauh bersekolah di Kabupaten Lahat seperti kakaknya karena ia adalah angkatan pertama SMP dan SMA di kecamatannya. Memang terdengar aneh karena semuanya begitu pas dan terkesan selalu ‘kebetulan’ dan seperti skenario. Skenario yang unik dari Allah SWT karena semua yang terjadi tiada yang bisa memprediksikannya. Tragis. Untuk bisa melanjutkan kuliah saja seorang anak kesulitan karena tidak memiliki uang lima belas ribu rupiah untuk ongkos dan enam belas ribu rupiah untuk materai. Inikah potret Indonesia yang ‘katanya’ sudah mengalokasikan dana 20 % dari APBN untuk sektor pendidikan. Memang pendidikan SMP dan SMA yang ia alami bebas biaya, namun taraf hidup masyarakat yang masih sangat rendah di sekitarnya membuat mengenyam bangku kuliah adalah hal yang sangat langka di  daerahnya.

Kisah Fitri sungguh membuat saya terharu. Saya jadi ingat segalanya; ibu, ayah dan kakak saya di rumah. Dan ayat Allah SWT yang berbunyi “maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?” dalam QS. Ar-rahman seakan menohok sikap saya yang selama ini sering berleha-leha dan seringkali tidak menyadari betapa banyak dan istimewanya nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya sering menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat padahal uang itu bagi orang lain bisa menjadi biaya untuk hidup berhari-hari. Saya sering mengeluh padahal banyak yang lebih capai karena sehari-harinya di rumahnya harus masak dan mencuci sendiri. Air mata saya tidak bisa lagi dibendung saat mendengarkan kisah haru Fitri tersebut. Ia benar-benar menginspirasi hidup saya untuk hidup lebih baik lagi, untuk bersikap lebih peka lagi, untuk bisa lebih mandiri, untuk selalu menolong sesama, dan untuk berhenti mengeluh. Padahal mengeluh sebelumnya adalah sesuatu yang secara sadar maupun tidak sadar sering saya lakukan.

Semoga cerita ini bisa menginspirasi orang lain juga. Dan semoga Fitri tidak tersinggung karena kisahnya sudah saya angkat di sini. Saya hanya bermaksud menginspirasi orang banyak dengan kisahnya ini. Dari kisah ini pula dapat kita simpulkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah SWT  memang mengijinkan hal itu terjadi.

 

27
Jul

SUSU Si SUPERHERO

Posted in Academic  by lulu.maknun10

Susu khususnya susu sapi selain berguna untuk kesehatan ternyata memiliki banyak manfaat lain yang mungkin saja tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setidaknya ada delapan manfaat lain dari susu yang sangat membantu, diantaranya


1. Pelembab Kulit Kering
Cara paling mudah untuk melembabkan dan menyegarkan kulit wajah yang kering adalah dengan menggunakan sedikit susu dingin. Biarkan kulit menyerap apa ayang ia butuhkan yang terkandung dalam susu dan basuh setelahnya. Lakukan hal ini sebanyak dua atau tiga kali dalam sehari sampai kulit tersebut membaik. Setelah itu, kita bisa mengurangi frekuensi untuk melakukan ketentuan tersebut menjadi hanya sekali dalam sehari.

2. Reparasi Alat Makan China
Jangan khawatir ketika kita memecahkan sebuah piring dari koleksi peralatan makan China.
Letakkan piring tersebut di dalam panci, selubungi dengan susu, dan panaskan. Selagi dipanaskan, kecilkan apinya dan tunggu hingga mendidih sekitar 45 menit. Protein yang terkandung dalam susu kan secara ajaib ‘menambal’ atau memperbaiki retakan yang ada.

3. Pembersih Barang Kulit Asli
Jika dompet maupun sepatu kulit yang Anda miliki terlihat lusuh, tidak menarik dan tua, Anda hanya perlu membersihkannya perlahan dalam sedikit susu, biarkan mengering, dan lap dengan kain lembut. Dalam sekejap, sepatu dan dompet kulit tadi akan tampak seperti baru.

4. Obat Salp untuk Kulit Terbakar Sinar Matahari dan Gigitan Serangga
Jika kulit sudah terlalu lama terkena sinar matahari, atau gatal-gatal karena gigitan serangga, campurkan sedikit bubuk susu dan air dengan perbandingan susu dan air sebesar 1 banding 2 serta sedikit garam. Lalu, pergunakan pasta ini pada kulit yang terbakar atau digigit serangga. Enzim pada susu akan membantu menetralkan gigitan serangga dan membantu mengurangi rasa sakit akibat sengatan matahari.

5. Pembersih Noda Tinta
Untuk menghilangkan noda tinta pada kemeja, susu bisa jadi jawaban yang tepat! Rendam kemeja bernoda tinta tersebut dalam campuran jus lemon dan susu semalaman dan noda tersebut akan pudar atau bahkan menghilang. Pada hari selanjutnya, pakaian tersebut bisa dicuci seperti biasa.

6. Penguat Rasa
Keluarkan ikan beku yang disimpan dalam freezer dan rendam ikannya dalam semangkuk penuh susu hingga ikan tersebut lunak kembali. Ikan tadi akan terasa lebih segar seperti pertama kali ditangkap dari laut.


7. Pemoles Peralatan Makan (dari perak)
Masalah paling utama untuk peralatan makan yang terbuat dari perak adalah mudah memudar atau terkena noda. Dengan sedikit bantuan dari sejumlah susu masam, kita bisa membuatnya terlihat seperti baru kembali. Cara membuat susu masamnya adalah dengan manambahkan setetes jus lemon atau cuka ke dalam susu. Lalu, rendam peralatan makan tersebut ke dalamnya utuk sekitar tigapuluh menit. Kemudian, cuci atau bilas dalam air sabun yang hangat, dan keringkan dengan kain lembut. Dengan begitu, sendok, garpu, pisau, dan alat makan lainnya akan berkilau kembali.

8. Pembersih Make-up
Untuk saat-saat tertentu, make-up yang sulit dibersihkan memang harus segera ditangani. Jika tidak, bekas make-up tersebut malah akan membuat kulit kita kotor dan tidak sehat. Maka, untuk membersihkannya, kita hanya perlu mengambil sejumlah susu bubuk. Campurkan tiga sendok makan susu bubuk dengan satu per tiga air hangat dalam seguah wadah dan kocok dengan baik. Setelah itu, pergunakan susu tadi untuk membersihkan make-up yang tersisa di wajah dengan lap wajah. Terakhir, bilas dengan air.


 
LinkDock.com You found linkdock.com, so will your customers. It's a great label for your website and will help you define your identity on the Web.